Ketika Filsuf Berbicara

Mantra "Man Jadda Wajadda" tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup ; namun perlu dilengkapi "Man Shabara Zhafira" siapa yang bersabar akan beruntung. Dengan dua mantra tersebut, Mari kita songsong badai hidup ini ! "Underdog can be the winner", they can, we can ! SIAPA TAKUT ??? "Everything is pledged for its due time"

Logo

Photobucket

Minggu, 17 Juli 2011

Pengolahan Tahu dan Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Bioteknologi Konvensional

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Industri tahu merupakan industri rakyat, yang sampai saat ini masih banyak yang berbentuk usaha perumahan atau industri rumah tangga. Walaupun sebagai industri rumah tangga dengan modal kecil, industri ini memberikan sumbangan perekonomian negara dan menyediakan banyak tenaga kerja. Namun pada sisi lain dihasilkan limbah cair yang sangat berpotensi merusak lingkungan.
Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu merupakan limbah organik yang degradable atau mudah diuraikan oleh mikroorganisme secara alamiah. Namun karena sebagian besar pemrakarsa yang bergerak dalam industri tahu adalah orang-orang yang hanya mempunyai modal terbatas, maka perhatian terhadap pengolahan limbah industri tersebut sangat kecil, dan bahkan ada beberapa industri tahu yang tidak mengolah limbahnya sama sekali dan langsung dibuang ke lingkungan. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dan harus mendapat perhatian yang serius. Pengolahan limbah cair industri tahu sampai saat sekarang kebanyakan hanya menampung limbah cair kemudian didiamkan beberapa saat lalu dibuang ke sungai. Cara ini memerlukan kapasitas penampungan limbah cair yang sangat besar. Terlebih lagi apabila kapasitas industri tahu cukup besar, maka dihasilkan limbah cair industri tahu yang sangat banyak.
Penguaraian polutan tersebut dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen bebas atau secara anaerob. Memang hal tersebut dapat berjalan walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Supaya proses pengolahan dapat berjalan lebih efektif, maka perlu dicari kondisi yang paling baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme dapat hidup dengan baik pada kondisi pH limbah cair sekitar 7 atau pada keadaan normal. Limbah cair industri tahu bersifat asam sehingga sebelum diolah perlu dinetralkan terlebih dahulu dengan kapur agar kerja mikroorganisme berlangsung dengan baik.Mengingat waktu yang cukup panjang dalam proses pengolahan limbah cair tahu secara anaerob, maka perlu dicari jalan ke luar untuk mendapatkan proses yang singkat namun biayanya tetap murah.

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana cara pengolahan tahu ?
b. Bagaimana cara memanfaatkan limbah tahu menjadi biogas ?
c. Bagaimana kerja Metana Bacterium dalam memfermentasikan limbah tahu menjadi biogas ?

1.3 Tujuan Penelitian

Karya tulis ilmiah “Pengolahan Tahu dan Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Bioteknologi Konvensional” mempunyai tujuan antara lain :
a. Mengetahui cara pengolahan tahu
b. Mengetahui cara memanfaatkan limbah tahu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat setempat .
c. Mengetahui kerja Metana Bacterium dalam fermentasi limbah tahu menjadi biogas .

1.4 Manfaat Penelitian

a. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang cara pengolahan tahu yang baik .
b. Memberikan kontribusi pada masyarakat akan pentingnya pemanfaatan limbah tahu .
c. Memberikan solusi dalam mengatasi polusi akibart limbah tahu .

1.5 Ruang Lingkup

Karya tulis ini membahas “Pengolahan Tahu dan Pemanfaatan Limbah Tahu sebagai Bioteknologi Konvensional”.Sasaran permasalahan yang diangkat yaitu berlandaskan pada ruang lingkup home industry tahu di kabupaten Tegal.

1.6 Hipotesis

a. Pembuatan tahu secara tradisional menghasilkan tahu yang lebih berkualitas.
b. Pemanfaatan limbah tahu secara anaerob menghasilkan biogas

1.7 Sumber Data 

Dalam karya tulis ini, kami mengambil sumber-sumber dari :

a. Observasi 

Kami melakukan pengamatan tentang pengolahan dan pemanfaatan limbah tahu di salah satu home industry dan Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) desa Pesalakan, Adiwerna Kabupaten Tegal.

b. Wawancara

Beberapa narasumber yang kami wawancarai yaitu :
1. Bapak M Mulya Subur pemilik home industry tahu
2. Bapak Rosikin selaku operator Industi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
3. Bapak S Teguh selaku Kepala Sub Bidang Perekonomian dan Pengembangan BAPPEDA, Kabupaten Tegal
4. Bapak Ir. jeruri HM selaku Kepala Sub Bidang Pengkajian Lingkungan Hidup , BLH (Badan Lingkungan Hidup)
5. Ibu Kuniardi selaku konsumen tahu

c. Studi Pustaka

Referensi yang kami gunakan bersumber dari website

1.8 Metode Penelitian 

Dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, maka metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah melakukan studi lapangan dan diskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan limbah tahu .Dalam pembuatan karya ilmiah, penulis berpedoman pada metode berikut:
a. Metode Observasi
Cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan di lapangan .
b. Metode Wawancara
Cara pengumpulan data dengan mengadakan narasumber yang ahli dalam bidangnya .
c. Metode Kepustakaan 
Cara pengumpulan dat dengan menggunakan buku –buku pedoman dan bahan – bahan dari internet yang digunakan sebagai dasar penulisan karya ilmiah.

1.9 Sistematika Penulisan

Dalam karya tulis ini, sistematika penulisan adalah sebagai berikut dalam setiap Bab digunakan angka romawi, dan setiap anak subbab digunakan angka.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Bahan baku Tahu
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir,koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Asam amino yang terkandung dalam proteinnya tidak selengkap protein hewani, namun penambahan bahan lain seperti wijen, jagung atau menir adalah sangat baik untuk menjaga keseimbangan asam amino tersebut. Kacang-kacangan dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan. Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe, serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai. Kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar
proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %. Dibandingkan dengan beras, jagung,tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hampir menyamai kadar protein susu skim kering. Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai. Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan
lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin pengupas, penggiling, dan cetakan.

Tabel 1. Komposisi Kedelai per 100 gram Bahan
Komponen Kadar (%)
Protein 35-45
Lemak 18-32
Karbohidrat 12-30
Air 7

Tabel 2. Perbandingan Antara Kadar Protein Kedelai Dengan Beberapa Bahan
Makanan Lain
Bahan Makanan Protein (%)
Susu skim kering36,00
Kedelai 35,00
Kacang hijau 22,00
Daging 19,00
Ikan segar 17,00
Telur ayam 13,00
Jagung 9,20
Beras 6,80
Tepung singkong 1,10

Dasar pembuatan tahu adalah melarutkan protein yang terkandung dalam
kedelai dengan menggunakan air sebagai pelarutnya. Setelah protein tersebut larut, diusahakan untuk diendapkan kembali dengan penambahan bahan pengendap sampai terbentuk gumpalan-gumpalan protein yang akan menjadi tahu. Salah satu cara pembuatan tahu ialah dengan menyaring bubur kedelai sebelum dimasak, sehingga cairan tahu yang sudah terpisah dari ampasnya.


2.2 Cara pembuatan Tahu

2.3 Fermentasi

Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi yang mengasilkan asam laktat sebagai produk sampingannya. Akumulasi asam laktat inilah yang berperan dalam menyebabkan rasa kelelahan pada otot.
Pembuatan tempe dan tape (baik tape ketan maupun tape singkong atau peuyeum) adalah proses fermentasi yang sangat dikenal di Indonesia. Proses fermentasi menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berguna, mulai dari makanan sampai obat-obatan. Proses fermentasi pada makanan yang sering dilakukan adalah proses pembuatan tape, tempe, yoghurt, dan tahu.

2.4 Bakteri Asam laktat

Bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat berpotensi sebagai pengawet tahu. Dengan bakteriosin sebagai agensia penggumpal dan sekaligus pengawet, diharapkan masa simpan tahu dapat diperpanjang.
Hal itu dikemukakan Prof Dr Endang Sutriswati Rahayu dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian, UGM, dengan judul 'Prospek Bakteri Asam Laktat Hasil Rekayasa Genetika Bidang Industri Pangan', di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Senin (27/8).
Ia mengungkapkan bahwa tahu 'KITA' yang diproduksi oleh Koperasi Alumni Teknologi Pertanian UGM menerapkan proses pasteurisasi pada tahu murni yang dihasilkan. Kemudian, dilanjutkan dengan penyimpanan dingin saat distribusi dan sebelum dikonsumsi.
''Dengan memanfaatkan bakteri asam laktat penghasil bakteriosin sebagai agensia penggumpal dan sekaligus pengawet, diharapkan masa simpan tahu dapat diperpanjang. Potensi bakteriosin sebagai pengawet saat ini secara intensif sedang diteliti di Fakultas Teknologi Pertanian UGM bekerja sama dengan produsen tahu KITA,'' tuturnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, bakteriosin memiliki potensi sebagai pengawet alami (biopreservasi) untuk menggantikan penggunaan pengawet kimia pada bahan makanan. Nisin adalah bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactococcus lactis dan telah dinyatakan aman penggunaan oleh Badan Pangan Dunia (FAO/WHO) sebagai pengawet alami. Bakteriosin ini telah diaplikasikan pada produk pangan pasteurisasi (keju dan susu), produk pangan sterilisasi berkadar asam rendah (makanan kaleng), produk pangan asam (yogurt dan salad dressing), produk pangan kemas vakum dan modifikasi atmosfir (slice meat, sosis, smoked fish), serta minuman beralkohol. Berbagai negara telah mengeluarkan peraturan tentang level nisin sebagai pengawet makanan.
Pengujian bakteri asam laktat penghasil bakteriosin non-nisin, karakterisasi dan aplikasinya sebagai agensia pengawet juga telah banyak dilakukan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Pediococcus acidilactici F-11 merupakan bakteri asam laktat penghasil bakteriosin yang potensial dibandingkan dengan isolat-isolat lainnya. Bakteriosin yang dihasilkan dari bakteri ini dapat menekan pertumbuhan bakteri pada susu pasteurisasi yang disimpan dingin. Bakteriosin yang dikombinasi sodium diasetat dan sodium laktat ternyata juga dapat menekan Listeria monocytogenes dalam daging yang disimpan pada suhu rendah.
Bahkan, kata Trisye, biomass Pediococcus acidilactici F-11 penghasil bakteriosin yang disemprotkan pada sayuran segar, khususnya paprika dan wortel yang disimpan dingin dapat menekan pertumbuhan Staphylococcus aureus. Pengembangan bakteri asam laktat penghasil bakteriosin sebagai kultur starter untuk memperbaiki produk fermentasi berbasis susu dan ikan juga telah dilakukan. Telah dilaporkan bahwa selama berlangsungnya proses fermentasi ikan menggunakan starter penghasil bakteriosin, populasi Coliform dapat ditekan.
Di bagian lain ia mengatakan, bakteri asam laktat penghasil bakteriosin dapat ditingkatkan produksinya melalui rekayasa genetika. Sehingga, biaya produksi dapat ditekan dan bakteriosin dengan harga yang murah dapat dimanfaatkan oleh usaha kecil menengah sebagai alternatif pengawet alami. ''Produk pangan hasil rekayasa genetika bukan ancaman bagi kita semua. Namun, kita perlu memahami dengan benar agar dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan kita semua,''

2.5 Bahan Pembantu Pembuatan Tahu

Bahan baku untuk membuat tahu kualitas tinggi adalah kedele putih berbiji besar-besar. Kemudian perlu juga asam cuka (kadar 90 %) yang dipakai sebagai campuran sari kedele agar dapat menggumpal menjadi tahu. Selain asam cuka dapat juga di pakai batu tahu (CaSo4) atau sulfat kapur yang telah di bakar dan ditumbuk dibuat tepung.
Dalam seluruh proses produksi tahu air bersih amat penting, baik untuk mencuci, merendam maupun untuk membuat sari kedele. Kalau pengrajin ingin membuat tahu kuning perlu menambah kunyit yang telah diparut dan diperas. Untuk menambah rasa asin, misalnya dapat menambah garam, untuk menambah rasa wangi sari kedele dicampur, misalnya dengan bubuk ketumbar, jintan, kapol, cengkeh, pala atau bahan-bahan dari ramu-ramuan lain. Pengrajin dapat pula membeli bubuk wangi buatan, misalny a bubuk buatan Cina.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengolahan Produk Tahu


Berdasarkan observasi yang kami lakukan di salah satu home industry tahu di Kabupaten Tegal , kami mendapatkan bahwa terdapat 4 macam jenis kedelai yaitu kedelai kuning, kedelai hitam, kedelai coklat dan kedelai hijau. Dalam pengolahan tahu ini , digunakan kedelai kuning karena dapat mengasilkan tahu yang berkualitas tinggi . Syarat mutu tahu kualitas utama yaitu :
a. bebas dari sisa tanaman (kulit palang, potongan batang atau ranting, batu, kerikil, tanah atau biji-bijian)
b. biji kedelai tidak luka atau bebas serangan hama dan penyakit
c. biji kedelai tidak memar
d. kulit biji kedelai tidak keriput , rasanya manis dan mengkilap .

Alat yang dibutuhkan meliputi :
1. Ember besar
2. Tampah (nyiru)
3. Kain Saring atau kain blancu
4. Kain pengaduk
5. Cetakan
6. Keranjang
7. Rak bamboo
8. Tungku atau kompor
9. Alat penghancur (alu)
10. Mesin penggiling

Bahan yang digunakan meliputi :
1. Kedelai
2. Air secukupnya
3. Kunir
4. Garam
5. Asam cuka sebagai penggumpal tahu

Proses produksi Tahu
Tahap dalam proses produksi tahu adalah sebagai berikut :
1. Kedele dipilih dengan penampi untuk memilih biji kedele besar. Kemudian di cuci serta direndam dalam air besar selama 6 jam. Tujuannya agar kedelai lebih lentur sehingga mudah digiling .
2. Setelah di rendam di cuci kembali sekitar 1/2 jam
3. Setelah di cuci bersih kedelai di bagi-bagi diletakkan dalam ebleg terbuat dari bambu atau plastik.
4. Selanjutnya kedele giling sampai halus, dan butir kedele mengalir dengan sendirinya kedalam tong penampung.
5. Selesai digiling langsung direbus selama 15 – 20 menit mempergunakan wajan dengan ukuran yang besar-besar . Sebaiknya jarak waktu antara selesai digiling dan dimasak jangan lebih dari 5 – 10 menit, supaya kualitas tahu menjadi baik.
6. Selesai di masak bubur kedele diangkat dari wajan ke bak/tong untuk disaring menggunakan kain belacu atau mori kasar yang telah di letakkan pada sangkar bambu. Agar bubur dapat di saring sekuat-kuatnya diletakkan sebuah papan kayu pada kain itu lalu ada satu orang naik di atasnya dan menggoyang-goyang, supaya terperas semua air yang masih ada pada bubur kedele. Limbah dari penyaringan berupa ampas tahu. Kalau perlu ampas tahu diperas lagi dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Pekerjaan penyaringan di lakukan berkali-kali hingga bubur kedele habis.
7. Air sampingan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih adalah bahan yang akan menjadi tahu. Air saringan di campur dengan asam cuka untuk menggumpalkan. Sebagai tambahan asam cuka dapat juga air kelapa atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah di eramkan maupun bubuk batu tahu (sulfat kapur)
8. Gumpalan atau jonjot putih yang mulai mengendap itulah yang nanti sesudah di cetak menjadi tahu. Air asam yang masih ada dipisahkan dari jonjot-jonjot tahu dan disimpan, sebab air asam cuka masih dapat digunakan lagi. Endapan tahu dituangkan dalam kotak ukuran misalnya 50 x 60 cm 2 dan sebagai alasnya di hamparkan kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Pengempaan dilakukan sekitar 1 menit, adonan tahu terbentuk kotak, yang sudah padat, di potong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm 2, sebelum menjadi tahu siap di jual.


Menurut Bpk. Mulya Subur , kualitas tahu yang baik adalah tahu tanpa bahan pengawet dan memakai kunir sebagai pewarna alami serta garam sebagai penggurih makanan . Bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat berpotensi sebagai pengawet tahu. Dengan bakteriosin sebagai agensia penggumpal dan sekaligus pengawet, diharapkan masa simpan tahu dapat diperpanjang. Bakteriosin memiliki potensi sebagai pengawet alami (biopreservasi) untuk menggantikan penggunaan pengawet kimia pada bahan makanan.

Namun , menurut salah satu konsumen Ibu Kuniardi , tahu yang baik dan enak adalah tahu yang langsung dikonsumsi setelah dibuat maksimal jangka waktu 1 hari . Meskipun kini produksi tahu memanfaatkan bakteri asam laktat yang tertuang pada cuka ( CH3COOH yang bersifat asam ) , namun rasa yang dihasilkan jika sudah diawetkan berhari hari akan berbeda . Tahu bersifat mudah rusak (busuk). Pada kondisi biasa (suhu kamar) daya tahannya rata-rata 1 – 2 hari saja. Setelah lebih dari batas tersebut rasanya menjadi asam lalu berangsur-angsur busuk, sehingga tidak layak dikonsumsi lagi.

Berdasarkan sumber dari internet , kami mendapatkan kandungan gizi dalam 100 gram tahu sebagai berikut :
No Jenis Zat Jumlah
1 Energi 63 kal
2 Air 86,7 gram
3 Protein 7,9 gram
4 Lemak 4,1 gram
5 Karbohidrat 0,4 gram
6 Serat 0,1 gram
7 Abu 0,9 gram
8 Kalsium 150 mg
9 Besi 2,2 mg
10 Vitamin B1 0,04 mg dan B2 0,02 mg
11 Nitacin 0,4 mg


Dengan komposisi seperti itulah, tahu merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk, terutama bakteri asam laktat karena kadar air dan kadar protein yang tinggi . Bakteri tersebut dapat tumbuh pada pH 7 atau keadaan normal . Mikrorganisme ini bersifat asam serta dapat menggumpalkan dan mengawetkan . Pada proses pembuatan tahu , bakteri ini berada pada bibit dan asam cuka yang digunakan untuk menggumpalkan tahu sesuai bentuk cetakan yang diinginkan . Selain itu , keberadaan bakteri ini berfungsi untuk mengawetkan tahu secara alami . Menurut Bpk. Mulya Subur , selain secara alami , tahu juga dapat diawetkan dengan cara merendamnya ke dalam air .Dengan cara seperti itu , tahu dapat bertahan selama berhari hari .

Sebelum menjadi tahu , adonan tahu dimasak . Tujuannya adalah untuk menghilangkan bau kedelai dan agar proses penyaringan ( distilasi ) dapat berjalan dengan baik . Pemanasan atau pemasakan tersebut sangat dipengaruhi oleh suhu . Pemanasan dapat mempengaruhi kadar protein pada tahu. Pengaruh panas dapat menyebabkan kerusakan protein , sehingga ketika mengaduk adonan harus hati-hati agar menghasilkan kualitas tahu yang baik . Selain itu penggilingan pada tahu menggunakan air panas bukan air dingin . Hal ini disebabkan , jika penggilingan dilakukan dengan menggunakan air dingin , maka aroma khas dari kedelai tidak akan hilang sehingga tahu kurang disukai masyarakat .
Dalam home industry ini , pengolahan tahu masih tergolong tradisional . Dari segi pewarnaan , pewarna yang digunakan adalah kunir yang menghasilkan warna kuning sedangkan tahu bewarna putih tanpa memakai pewarna . Dari segi pengawet , pengawet yang digunakan adalah bakteri asam laktat yang secara alami ada pada proses pembuatan tahu dan air dengan cara merendam tahu itu .


3.2 Pemanfaatan Limbah Tahu menjadi Biogas

Berdasarkan studi lapangan , sebagian besar limbah cair yag dihasilkan oleh industry pembuatan tahu di Kabupaten Tegal khususnya Desa Pesalakan Adiwerna adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu atau disebut air dadih . Cairan tersebut mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai . Namun di beberapa industry di Kabupaten Tegal , limbah cair tersebut dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga dapat menghasilkan bau busuk , mencemari sungai , dan menyebabkan polusi udara.
Berbeda dengan industry tahu di Desa Pesalakan , sekitar 250 home industry memanfaatkan limbah tahu sisa penyaringan menjadi biogas . Menurut Bpk. Rosikin selaku operator Industri Pengolahan Air Limbah ( IPAL) , ide tersebut muncul ketika warga bingung dalam membuang limbah tahu mereka . Atas prakarsa peneliti dari Jerman , UGM , dan aliran dana baik dari pemerintah pusat , provinsi maupun daerah , didirikan IPAL yang selesai pada tahun 2008 .
Rancangan IPAL Desa Pesalakan Adiwerna

Berdasarkan hasil pengamatan , wawancara dengan Bpk. Rosikin dan Bpk. S. Teguh selaku Kepala Sub Bidang Pengkajian Lingkungan Hidup , proses pengolahan limbah tahu menjadi biogas adalah sebagai berikut :
1. Pertama limbah tahu cair dari berbagai home industry , dialirkan melalui pipa dan ditampung di sebuah bak penampung dengan bantuan listrik atau dipacu dengan listrik .
2. Setelah ditampung di bak penampungan , air limbah tersebut dialirkan ke bak penampung pusat . Pada bak tersebut , air limbah mengalami penyaringan lebih lanjut .
3. Lalu , air limbah tersebut dialirkan menuju dua bak penampung lainnya yang letaknya sejajar dengan bak penampung pusat . Tujuannya untuk memperlancar proses aliran .
4. Setelah itu , air limbah yang berasal dari dua bak penampung masing-masing dialirkan menuju dua digester yang letaknya sejajar .
5. Di dalam digester tersebut , air limbah mengalami serangkaian proses yaitu proses fermentasi Bakteri EM 4 atau bakteri metana( 10 – 20 % dari air limbah ) . Menurut Bpk. S. Teguh selaku KaSub Bidang Perekonomian dan Pengembangan , bakteri tersebut dapat diperoleh dari apotek dan dapat terus berkembang biak sehingga tidak perlu pemberian bakteri secara reguler . Bakteri tersebut bersifat sebagai pemicu dan berfungsi menghasilkan gas metan yang merupakan komposisi utama biogas . Awalnya , bakteri tersebut menguraikan zat-zat organic seperti limbah tahu menjadi protein yang kemudian berubah menjadi gas metan .Digester dirancang dengan bentuk setengah bola agar kokoh dan kuat . Selain itu , digester didesign kedap udara karena proses yang terjadi yaitu secara anaerob ( tidak membutuhkan oksigen ) dengan komposisi 40 % limbah dan 60% ruang udara kosong . Ruang udara kosong tersebut digunakan sebagai ruang bagi gas yang dihasilkan oleh bakteri EM 4 .
6. Pada digester , terdapat selang dengan dipacu oleh sebuah dynamo di ruang operasional . Aliran gas mengalir melalui selang , kemudian dialirkan menuju pipa-pipa di setiap rumah di desa Pesalakan . Mengalir tidaknya gas , diukur melalui parameter berupa manometer . Jika ketinggian air mencapai angka 20 , pertanda gas sudah mengalir menuju rumah-rumah warga .
7. Air limbah yang tidak diuraikan oleh Bakteri EM 4 , disaring kembali melalui bak penyaringan dengan komposisi dari atas ke bawah yaitu batu koral seperti batu apung dan kerikil , arang , ijuk dan spon .
8. Air yang sudah disaring dialirkan menuju kolam ikan lele . Degan air akhir saringan limbah tahu , ikan lele dapat berkembang biak dan tumbuh subur . Selain sebagai penunjang bagi ikan , air limbah juga dapat dimanfaatkan sebagai irigrasi pada sawah di sekitar tempat IPAL .

Proses pengolahan limbah tahu tersebut terjadi secara fisika dan biologi . Pengolahan secara fisika yaitu melalui proses penyaringan (screening) merupakan suatu cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar seperti limbah tahu . Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Sedangkan pengolahan secara biologi yaitu pengolahan semua air buangan yang biodegradable .


Menurut Bpk. S Teguh , pembangunan IPAL ini mencapai anggaran 1,5 Milyar . Disini pemerintah hanya berperan sebagai inisiasi , fasilitator , dan evaluator sehingga untuk pengelolaannya diserahkan kepada warga setempat . Dari segi kontribusi , menurut beliau , keuntungan secara financial tidak ada . Baginya , ini merupakan suatu keberhasilan bagi pemerintah karena berhasil memecahkan salah satu masalah polusi udara . Begitu juga pernyataan dari Bpk. Ir. Jeruri selaku Kepala Sub Bidang Pengkajian Lingkungan Hidup . Pihak BLH hanya memantau , memberikan fasilitas serta memberikan pentuluhan terhaddap pengrajin tahu mengingat kondisi lingkungan yang semakin mengglobal .


BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan dan analisis yang telah kami buat, dapat disimpulkan bahwa :
• Proses produksi tahu menghasilkan dua jenis limbah, yaitu limbah cair dan limbah padat. Limbah padat dapat dimanfaatkan menjadi gembus dan makanan ternak, sedangkan limbah cair tahu dapat dimanfaatkan menjadi biogas, tetapi belum banyak pengusaha tahu yang belum memanfaatkan limbah cair tahu dan membuangnya ke sungai begitu saja.
• Di desa Pesalakan, biogas limbah tahu dibuat dengan memanfaatkan proses fermentasi bakteri EM 4.
• Walaupun tidak menghasilkan uang yang banyak, tetapi pemanfaatan limbah cair tahu ini telah menyelesaikan masalah para pengrajin tahu yang kebingungan membuang limbah cair tahu yang dapat mencemari lingkungan.

4.2 Saran
Pemilik Industri Tahu:
1. Sebaiknya Limbah tahu cair tidak dibuang sembarangan karena dapat mencemari lingkungan sekitar.
2. Sebaiknya limbah tahu cair dimanfaatkan sehingga dapat meringankan beban hidup dengan mensubstitusikan biogas dengan gas LPG.

Pemerintah
1. Sebaiknya pada setiap daerah penghasil tahu, diadakan penyuluhan sehingga masyarakat khususnya pemilik industri tahu dapat mengetahui pemanfaatan limbah tahu.
2. Sebaiknya pemerintah segera membuat lebih banyak lagi digester agar polusi akan limbah tahu dapat berkurang.


DAFTAR PUSTAKA
Harahap F M, Apandi dan Ginting S., 1978, “Teknologi Gasbio”, Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung, Bandung
Nurtjahya, Eddy., dkk, 2003, “Pemanfaatan Limbah Ternak Ruminansia untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan”, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran : Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI Press, Jakarta.
EMDI dan BAPEDAL. 1994. Limbah Cair Berbagai Industri Di Indonesia: Sumber, pengendalian dan baku Mutu. Project of the Ministry for the Environment, Republic of Indonesia and Dalhousie University, Canada.
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI-Press, Jakarta.
http://www.balipost.co.id
http://www.litbang.esdm.go.id
http://www.migas-indonesia.com
http://www.petra.ac.id
http://www.pikiran-rakyat.com
http://www.waspada.co.id
http://id.wikipedia.org/wiki/


Lampiran

SURAT PERNYATAAN WAWANCARA

Sehubungan dengan proses pngerjaan pembelajaran di luar kelas mata pelajaran Biologi kelas XII IPA SMAN 1 Tegal tentang Pemrosesan Produk Bioteknologi di Kota Tegal dan sekitarnya , maka dengan ini kami selaku siswa kelas XII IPA SMAN 1 Tegal menyatakan bahwa :

Nama : Intan Khoirun Nisa
Kelas/Absen : XII IPA 1 / 16

Nama : Muhendra Ragah Satria
Kelas/Absen : XII IPA 1 / 20

Nama : Ria Kusuma Dewi
Kelas/Absen : XII IPA 1 / 23

Nama : Wahyu Pahlawan
Kelas/Absen : XII IPA 1 / 29

Telah melakukan wawancara dengan Bpk. Ir. Jeruri HM selaku Kepala Sub Bidang Pengkajian Lingkungan Hidup , BLH , Kab. Tegal .
Dengan demikian , surat pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaiman mestinya.


Tegal, 27 Juli 2010
Narasumber



Ir. Jeruri HM

7 komentar:

  1. yeeeeeeeeeeeee.......... akhirnya da masukan..........
    tankz guyZ.............. arigato........ gumauwooooooo

    BalasHapus
  2. iya samasama, semoga bermanfaat yaaa

    BalasHapus
  3. maksud dari dipacu dengan listrik itu apa ya apa menggunkan pompa untuk mengalirkannya ke bak penampungan atau gimana
    mohon penjelasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Anonim: terdapat semacam pompa yg dapat mengalirkannya ke bak penampung melalui pipa

      Hapus
  4. kk makasih ya atas semua infonya...
    syuqran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya samasama semoga bermanfaat

      Hapus
    2. Saya kurang paham

      Hapus